Mitos yang Menghambat Diri Menjadi Orang yang Kreatif Posted by future generation
Post by Renungan Harian Remaja
Kategori Tips
1. Orang yang kreatif hanyalah yang memang orang-orang yang memang kreatif
Pada kenyataannya, hamper semua penelitian menyatakan bahwa orang yang memiliki tingkat kecerdasaan intelektual yang rata-rata mampu untuk melakukan pekerjaan dengan tingkat kreatifitas tertentu.
2. Uang adalah pendorong munculnya kreatifitas
Seringkali orang beranggapan kreatifitas munculnya bila ada uang atau ketersediaan dana. Penelitian tentang kreatifitas menunjukkan bahwa uang bukanlah segalanya. Orang-orang yang kreatif mengatakan bahwa kreatifitas mereka bukan berdasarkan uang yang diberikan,. Justru orang-orang yang banyak memikirkan tentang bonus uang yang akan mereka terima malah memberikan sedikit waktu untuk dapat berkreatifitas.
3. Kreatifitas muncul karena adanya tekanan ‘deadline’
Penelitian mengatakan bahwa ketika orang bekerja di bawah tekanan, maka kreatifitas akan terpendam tidak hanya pada hari itu tetapi juga 2 hari sesudahnya. Tekanan waktu justru menghambat kreatifitas karena orang tidak dapat berkonsentrasi dengan masalah yang dihadapinya. Kreatifitas membutuhkan masa inkubasi yaitu waktu untuk orang dapat menganalisa masalah yang ada dan membiarkan ide-idenya muncul.
4. Kompetisi memunculkan kreatifitas
Dalam dunia finance dan industri high tech, ada keyakinan yang mengatakan bahwa kompetisi memunculkan inovasi. Pada kenyataannya survey mengatakan bahwa tim yang kreatif adalah tim yang merasa nyaman untuk membagikan ide-idenya dan mendiskusikan ide-idenya tersebut. Ketika orang berkompetisi untuk mendapatkan pengakuan, mereka akan berhenti untuk slaing bertukar informasi sehingga tidak berkolaborasi dan akhirnya memunculkan kreatifitas.
Nats: Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban (Ibrani 4:13)
Judul: KAMBING HITAM
Sebuah cerita humor. Suatu hari Iblis bertemu Tuhan. "Tuhan, manusia itu keterlaluan. Mereka yang korupsi, mencuri, membunuh, saya yang disalahkan. Kata mereka, digoda Iblis," keluhnya. "Sama, Aku juga begitu, Blis. Banjir, kecelakaan lalu lintas, suami istri bercerai, mereka bilang, sudah kehendak Tuhan," kata Tuhan pula.
Begitulah kecenderungan manusia; lari dari tanggung jawab, senang mencari kambing hitam, melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Itu juga yang terjadi di Taman Eden, ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Adam yang telah melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah "terlarang" itu, melemparkan kesalahan kepada Hawa (ayat 12). Hawa pun tidak terima, sehingga ia juga melemparkan kesalahannya kepada ular (ayat 13).
Tentu saja ini kecenderungan buruk. Sebab dengan melemparkan kesalahan kepada pihak lain, bukan saja berarti kita telah melipatgandakan dosa kita, tetapi kita juga jadi tidak belajar dari kesalahan. Lagipula, betapa pun cerdiknya kita bersembunyi dari dosa, kita tidak bisa lari dari Tuhan. Seperti Adam dan Hawa, kita tidak dapat mengelak dari akibat dosa. Pada akhirnya, kita harus mempertanggungjawabkan setiap dosa kita di hadapan Tuhan.
Dosa, kalau dibiarkan akan "menggelinding" melahirkan dosa-dosa lainnya. Tidak ada jalan lain, kita harus memutus mata rantai dosa; dengan mengakui dan bertanggung jawab atasnya. Untuk sesaat mungkin kita akan "sakit" menanggung akibatnya, tetapi itu lebih baik daripada kita harus menanggung akibat yang berkepanjangan รข€”AYA BERANI BERTANGGUNG JAWAB ADALAH SALAH SATU CIRI WATAK DAN PRIBADI YANG DEWASA
Tag: pedoman hidup Sebelumnya: Ibadah Sejati-1: Mempersembahkan hidup bagi Tuhan Selanjutnya : NIKMATILAH KOPINYA, BUKAN CANGKIRNYA! Balas bagi
Pada masa perang dunia II, ada sebuah metode menarik yang diterapkan dalam sebuah kamp pelatihan tentara di Amerika Serikat. Metode yang pertama kali diterapkan di Florida ini disebut dengan “gator aid” atau pertolongan buaya. Materi pelatihan yang diberikan kepada prajurit itu sebenarnya sama saja dengan kebanyakan materi-materi di tempat pelatihan lainnya, di dalamnya termasuk berlari melewati daerah yang penuh rintangan.
Namun yang membedakan adalah pada akhir tes yang tujuannya menguji daya tahan, para prajurit itu harus bergelayut pada seutas tali dan kemudian melintasinya. Tali itu sendiri dipasang diatas sebuah kolam yang lebar namun tidak terlalu dalam.
Di bawah sinar matahari, permukaan kolam sungguh berkilauan, sangat menarik hati sehingga banyak prajurit hanya menyebrang separuh kolam lalu menceburkan diri ke dalamnya dan kemudian berenang sampai ke seberang kolam. Tiba-tiba seorang Letnan yang berani memasukkan seekor buaya besar ke dalamnya. Sejak itu, setiap prajurit yang hendak melompat sudah mengambil ancang-ancang hampir lima meter dari tepi kolam dan melintasi kolam yang lebar itu tanpa mau menceburkan diri ke dalamnya dan akhirnya mereka mendarat di seberang dengan bergulingan.
Demikian pula sifat kita sebagai orang Kristen, terkadang harus dipacu oleh “dorongan” situasi yang tidak kita harapkan. Tanpa koreksi penuh kasih dari Allah dan disiplin yang sungguh-sungguh, daya tahan rohani dan kemampuan kita untuk menanggung segala sesuatu tak akan pernah bertumbuh. Jika Tuhan tidak mengizinkan kita mengalami keadaan sulit, kita akan segera terjebak dalam perasaan puas diri dan terlalu percaya diri.
Saat ini, jika Anda sedang mengalami kepedihan karena keadaan yang menekan, ingatlah perkataan Daud, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu” (Mazmur 119:71).
Tantangan dalam hidup bukanlah untuk menghancurkan kita melainkan mengarahkan kita kepada Allah.
Terberkati dengan artikel di atas? Ayo dong bagikan ke teman-teman yang lain biar jadi berkat. Kalo kamu punya facebook / twiter/ email klik pilihan di bawah ini. GBU
aku...........inginku pergy because rinduku kampung halamaku...
BalasHapusMitos yang Menghambat Diri Menjadi Orang yang Kreatif
BalasHapusPosted by future generation
Post by Renungan Harian Remaja
Kategori Tips
1. Orang yang kreatif hanyalah yang memang orang-orang yang memang kreatif
Pada kenyataannya, hamper semua penelitian menyatakan bahwa orang yang memiliki tingkat kecerdasaan intelektual yang rata-rata mampu untuk melakukan pekerjaan dengan tingkat kreatifitas tertentu.
2. Uang adalah pendorong munculnya kreatifitas
Seringkali orang beranggapan kreatifitas munculnya bila ada uang atau ketersediaan dana. Penelitian tentang kreatifitas menunjukkan bahwa uang bukanlah segalanya. Orang-orang yang kreatif mengatakan bahwa kreatifitas mereka bukan berdasarkan uang yang diberikan,. Justru orang-orang yang banyak memikirkan tentang bonus uang yang akan mereka terima malah memberikan sedikit waktu untuk dapat berkreatifitas.
3. Kreatifitas muncul karena adanya tekanan ‘deadline’
Penelitian mengatakan bahwa ketika orang bekerja di bawah tekanan, maka kreatifitas akan terpendam tidak hanya pada hari itu tetapi juga 2 hari sesudahnya. Tekanan waktu justru menghambat kreatifitas karena orang tidak dapat berkonsentrasi dengan masalah yang dihadapinya. Kreatifitas membutuhkan masa inkubasi yaitu waktu untuk orang dapat menganalisa masalah yang ada dan membiarkan ide-idenya muncul.
4. Kompetisi memunculkan kreatifitas
Dalam dunia finance dan industri high tech, ada keyakinan yang mengatakan bahwa kompetisi memunculkan inovasi. Pada kenyataannya survey mengatakan bahwa tim yang kreatif adalah tim yang merasa nyaman untuk membagikan ide-idenya dan mendiskusikan ide-idenya tersebut. Ketika orang berkompetisi untuk mendapatkan pengakuan, mereka akan berhenti untuk slaing bertukar informasi sehingga tidak berkolaborasi dan akhirnya memunculkan kreatifitas.
Tanggal: senin, 5 Juni 2008
BalasHapusBacaan : Kejadian 3:1-21
Setahun: Ayub 19-21
Nats: Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya,
sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia,
yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungjawaban (Ibrani
4:13)
Judul: KAMBING HITAM
Sebuah cerita humor. Suatu hari Iblis bertemu Tuhan. "Tuhan, manusia
itu keterlaluan. Mereka yang korupsi, mencuri, membunuh, saya yang
disalahkan. Kata mereka, digoda Iblis," keluhnya. "Sama, Aku juga
begitu, Blis. Banjir, kecelakaan lalu lintas, suami istri bercerai,
mereka bilang, sudah kehendak Tuhan," kata Tuhan pula.
Begitulah kecenderungan manusia; lari dari tanggung jawab, senang
mencari kambing hitam, melemparkan kesalahan kepada pihak lain. Itu
juga yang terjadi di Taman Eden, ketika manusia jatuh ke dalam dosa.
Adam yang telah melanggar perintah Tuhan dengan memakan buah
"terlarang" itu, melemparkan kesalahan kepada Hawa (ayat 12). Hawa pun
tidak terima, sehingga ia juga melemparkan kesalahannya kepada ular
(ayat 13).
Tentu saja ini kecenderungan buruk. Sebab dengan melemparkan kesalahan
kepada pihak lain, bukan saja berarti kita telah melipatgandakan dosa
kita, tetapi kita juga jadi tidak belajar dari kesalahan. Lagipula,
betapa pun cerdiknya kita bersembunyi dari dosa, kita tidak bisa lari
dari Tuhan. Seperti Adam dan Hawa, kita tidak dapat mengelak dari
akibat dosa. Pada akhirnya, kita harus mempertanggungjawabkan setiap
dosa kita di hadapan Tuhan.
Dosa, kalau dibiarkan akan "menggelinding" melahirkan dosa-dosa
lainnya. Tidak ada jalan lain, kita harus memutus mata rantai dosa;
dengan mengakui dan bertanggung jawab atasnya. Untuk sesaat mungkin
kita akan "sakit" menanggung akibatnya, tetapi itu lebih baik daripada
kita harus menanggung akibat yang berkepanjangan รข€”AYA
BERANI BERTANGGUNG JAWAB ADALAH SALAH SATU CIRI WATAK DAN PRIBADI YANG DEWASA
Tag: pedoman hidup
Sebelumnya: Ibadah Sejati-1: Mempersembahkan hidup bagi Tuhan
Selanjutnya : NIKMATILAH KOPINYA, BUKAN CANGKIRNYA!
Balas bagi
Mazmur 119:71
BalasHapus“Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.”
Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 29; Kolose 2; 2 Tawarikh 14-15
Pada masa perang dunia II, ada sebuah metode menarik yang diterapkan dalam sebuah kamp pelatihan tentara di Amerika Serikat. Metode yang pertama kali diterapkan di Florida ini disebut dengan “gator aid” atau pertolongan buaya. Materi pelatihan yang diberikan kepada prajurit itu sebenarnya sama saja dengan kebanyakan materi-materi di tempat pelatihan lainnya, di dalamnya termasuk berlari melewati daerah yang penuh rintangan.
Namun yang membedakan adalah pada akhir tes yang tujuannya menguji daya tahan, para prajurit itu harus bergelayut pada seutas tali dan kemudian melintasinya. Tali itu sendiri dipasang diatas sebuah kolam yang lebar namun tidak terlalu dalam.
Di bawah sinar matahari, permukaan kolam sungguh berkilauan, sangat menarik hati sehingga banyak prajurit hanya menyebrang separuh kolam lalu menceburkan diri ke dalamnya dan kemudian berenang sampai ke seberang kolam. Tiba-tiba seorang Letnan yang berani memasukkan seekor buaya besar ke dalamnya. Sejak itu, setiap prajurit yang hendak melompat sudah mengambil ancang-ancang hampir lima meter dari tepi kolam dan melintasi kolam yang lebar itu tanpa mau menceburkan diri ke dalamnya dan akhirnya mereka mendarat di seberang dengan bergulingan.
Demikian pula sifat kita sebagai orang Kristen, terkadang harus dipacu oleh “dorongan” situasi yang tidak kita harapkan. Tanpa koreksi penuh kasih dari Allah dan disiplin yang sungguh-sungguh, daya tahan rohani dan kemampuan kita untuk menanggung segala sesuatu tak akan pernah bertumbuh. Jika Tuhan tidak mengizinkan kita mengalami keadaan sulit, kita akan segera terjebak dalam perasaan puas diri dan terlalu percaya diri.
Saat ini, jika Anda sedang mengalami kepedihan karena keadaan yang menekan, ingatlah perkataan Daud, “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu” (Mazmur 119:71).
Tantangan dalam hidup bukanlah untuk menghancurkan kita melainkan mengarahkan kita kepada Allah.
Terberkati dengan artikel di atas? Ayo dong bagikan ke teman-teman yang lain biar jadi berkat. Kalo kamu punya facebook / twiter/ email klik pilihan di bawah ini. GBU